Review Buku Novel Into The Water

Review Buku Novel Into The Water

Review Buku Novel Into The Water – Sebelum anda membaca novel Into the Water, ada baiknya anda mengingatkan diri anda bahwa novel ini bergenre misteri dan dibumbui thriller.

Sebagai fans Paula Hawkins, harus kuakui bahwa buku Novel Into The Water ini sangat berbeda dari novel The Girl on the Train. Jadi jika anda ada melihat iklan yang menyebutkan “jika anda suka dengan The Girl on the Train, anda pasti akan suka dengan Into the Water“, maka iklan tersebut adalah omong kosong belaka. Novel Into the Water tidak berfokuskan kepada perkenalan karakter seperti yang dilakukan pada The Girl on the Train, tapi berfokuskan kepada perspektif perseorang di kota Britania. Hal yang sama adalah flash back yang dilakukan untuk mengenang kejadian yang pernah terjadi di masa lalu yang memberikan informasi mengenai alur cerita.

Seperti yang ku sebutkan di atas, karakter yang dipakai dalam novel ini sangat banyak, tidak, maksudku terlalu banyak. Aku tidak pernah membaca buku dengan sudut pandang karakter berbeda yang sangat banyak, dan aku tidak tahu kalau ini adalah poin positif atau malah poin negatif. Aku tidak tahu anda terbiasa dengan karakter yang banyak atau tidak, namun ketika aku membacanya, aku merasa risih. Ada Lena, anak dari Nel yang sudah meninggal, Adik Nel, yang bernama Jules. Lalu ada lagi Sean dan Erin sebagai detektif, dan istri Sean yang bernama Helen, dan ada ayahnya lagi yang bernama Patrick. Terus ada juga Guru dari Lena, yang bernama Mark kalau tidak salah. Kemudian ada juga Psikiater, Nickie Sage, lalu ada Louise Whittaker, yang anak perempuannya meninggal dan juga ada Josh anak lelakinya. Aku mungkin melewatkan beberapa di antaranya. Entahlah, saya sendiri membaca buku ini sampai halaman 30an sudah menghitung ada 7 sudut pandang dengan karakter berbeda.

Di lain pihak, aku merasa bahwa sudut pandang yang banyak ini memberikan kita kemudahan sebagai pembaca (terlebih karena aku lebih suka dengan cerita sudut pandang pertama), dengan cerita masing masing orang dan bagaimana sudut pandang masing masing orang mengenai sebuah kejadian. Namun hal yang kusesalkan disini adalah bagaimana cerita dalam novel ini berkembang. Aku mengharapkan cerita yang lebih suspense daripada novel debut pertamanya. Ada pepatah mengatakan, jika mau berharap, jangan terlalu tinggi, nanti dikecewakan. Ya gitu deh.

Perlu diperhatikan, jika anda berpendapat bagaimana tokoh utama dalam The Girl on the Train, Rachel, yang membenci semua orang, dan jika anda merasa demikian, aku harap anda tidak membaca buku ini, karena karakter dalam buku ini bahkan lebih dipenuhi kebencian. Aku secara pribadi cukup suka membaca mengenai kebusukan seseorang dan bagaimana Rachel dalam novel pertamanya yang kacau dan membutuhkan simpati ketimbang seorang karakter yang dramatis.

Saya pikir buku ini lebih tenang, keseluruhannya, perkembangan karakter lebih cenderung buruk, dan ceritanya kurang dramatis, klimaksnya juga kurang menendang, tidak ada momen “wow” di dalamnya. Namun aku sangat menikmati membaca buku ini, entah mengapa buku ini sangat ringan untuk dibaca. Aku tidak ingin buru buru mengajak anda untuk membaca buku ini, namun buku ini patut untuk dicoba dikala anda bosan atau untuk mengisi waktu luang.

Harus kuakui bahwa aku akan terus menunggu karya karya Paula Hawkin ke depannya, dan pasti akan kubaca. Cheers!

Previous Post Next Post

You Might Also Like

1 Comment

  • Reply Amalia Nur Anisa December 4, 2019 at 8:51 am

    Saya memiliki postingan mengenai review buku berjudul Hujan Tere Liye di website saya dan teman saya, berikut linknya http://bulubook.com/review/hujan/

  • Leave a Reply