Review Buku Lies Between Us: Rahasia Gelap dan Persahabatan Toxic yang Bikin Susah Berhenti Baca

Jujur saja, awal mula saya memutuskan untuk meminang Lies Between Us karya Jessica Goodman itu bukan karena liat review di TikTok atau rekomendasi algoritma. Waktu itu, saya lagi bengong di toko buku fisik, bosen banget liat deretan buku *self-improvement* yang judulnya makin hari makin panjang. Iseng saya mampir ke rak fiksi thriller, dan sampul buku ini langsung mencuri perhatian. Desaiya yang misterius dengauansa warna gelap langsung bikin insting “detektif amatir” saya keluar.

Setelah baca sinopsis singkat di sampul belakang, saya langsung ngerasa kalau buku ini bakal jadi temen begadang yang pas. Ternyata insting saya nggak salah. Begitu sampai di rumah, saya langsung buka segelnya daggak sadar udah lewat tengah malam pas saya nutup bab pertamanya. Ada semacam daya tarik magis dalam tulisan Goodman yang bikin kita terus-terusan penasaran, “Terus habis ini gimana?”

Sinopsis Singkat: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Cerita ini berpusat pada hubungan kompleks antara dua sahabat, Lexi dan Mara. Mereka punya ikatan yang sangat erat, mungkin terlalu erat sampai-sampai garis batas antara “peduli” dan “obsesi” jadi kabur. Semuanya berubah ketika sebuah tragedi terjadi dan rahasia yang selama ini mereka kubur dalam-dalam mulai muncul ke permukaan.

Goodman membanguarasi dengan lompatan waktu yang menurut saya sangat efektif. Kita diajak melihat bagaimana masa lalu membentuk karakter mereka saat ini. Lies Between Us bukan sekadar thriller yang penuh dengan *jump scare* di setiap halaman, melainkan sebuah psikologis thriller yang lebih fokus pada manipulasinya, luka batin, dan betapa bahayanya rahasia kecil yang dibiarkan menumpuk seperti bom waktu.

Kenapa Buku Ini Layak Masuk Daftar Bacaanmu?

Banyak pembaca di Goodreads yang memberikan rating tinggi, dan saya setuju kalau kekuatan utama buku ini terletak pada atmosfernya. Seorang user di sana menulis bahwa dia merasa sangat terkuras emosinya saat membaca bagaimana karakter dalam buku ini saling memanipulasi satu sama lain. Memang, tidak semua orang akan suka dengan tempo ceritanya yang agak pelan di awal, tapi itulah yang disebut “slow burn” yang nikmat.

Kalau kalian sering mencari referensi bacaan yang nggak cuma seru tapi juga bikin mikir, kalian bisa coba cek Bukureview untuk mendapatkan perspektif lain mengenai genre thriller yang serupa. Di sana banyak diskusi menarik yang mungkin bisa bikin kalian lebih memahami kenapa Lies Between Us layak dapat tempat spesial di rak buku kalian.

Karakter Lexi dan Mara itu menurut saya “nyebelin” sekaligus bikin kasihan. Mereka bukan karakter yang “putih” banget. Goodman berhasil menulis mereka sebagai manusia abu-abu yang punya niat baik tapi berakhir dengan pilihan-pilihan yang merusak. Inilah yang bikin ceritanya terasa nyata. Kita semua pasti punya teman, atau pernah jadi teman, yang hubungan persahabataya nggak selalu sehat.

Kritik Membangun: Apa yang Masih Bisa Diperbaiki?

Meskipun saya sangat menikmati buku ini, saya nggak akan bilang ini buku yang sempurna tanpa cacat. Ada beberapa bagian di tengah cerita yang menurut saya agak repetitif. Kadang penulis terlalu banyak mengulang detail perasaan karakter yang sebenarnya sudah cukup jelas di bab sebelumnya. Mungkin kalau editornya lebih berani memangkas beberapa halaman, tensinya bakal jauh lebih terasa tajam.

Selain itu, buat kalian yang sudah terbiasa baca thriller dengan plot twist yang “meledak-ledak” setiap bab, mungkin akan merasa klimaks di buku ini agak sedikit… landai. Tapi, kalau kalian tipe pembaca yang menikmati *character study* dan bagaimana rahasia bisa menghancurkan hidup seseorang secara perlahan, maka kekurangan tadi bukan masalah besar.

Kelebihan yang Patut Diapresiasi

  • Pengembangan karakter yang sangat mendalam, terutama dinamika hubungan pertemanan perempuan.
  • Setting lokasi yang deskriptif, bikin kita seolah-olah ikut terjebak dalam situasi yang dialami tokoh utama.
  • Gaya bahasa yang lugas, nggak berbelit-belit, dan sangat enak diikuti buat santai sore.
  • Premis yang relevan dengan realita kehidupan remaja atau dewasa muda saat ini mengenai tekanan sosial.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Lies Between Us adalah sebuah perjalanan emosional yang kelam. Jessica Goodman berhasil menyuguhkan cerita yang bikin kita mempertanyakan kembali, “Seberapa jauh kita mengenal teman terdekat kita sendiri?” Meskipun ada sedikit masalah pada tempo di pertengahan cerita, kualitas penulisan dan kedalaman psikologis karakternya jauh lebih dominan.

Buku ini sangat saya rekomendasikan buat kalian yang butuh bacaan thriller yang nggak cuma sekadar “siapa pelakunya”, tapi juga “kenapa mereka melakukaya”. Siapkan kopi hangat, cari sudut ternyaman di kamar, dan bersiaplah untuk merasa tidak percaya pada siapapun sampai halaman terakhir.

Jadi, apakah kalian sudah baca buku ini atau berencana menambahkaya ke daftar wishlist? Apapun pilihan kalian, pastikan untuk selalu mencari buku yang memberikan pengalaman baru bagi pikiran kalian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *