Review Buku Funerals Are for the Living: Pengingat Menampar untuk Menikmati Hidup

Jujur saja, awal mula saya kepincut sama buku ini bukan karena rekomendasi dari siapa-siapa, melainkan gara-gara cover-nya yang mencolok pas lagi mampir ke toko buku langganan di akhir pekan lalu. Judulnya, Funerals Are for the Living karya Sami Ellis, langsung bikin saya berhenti sejenak. Ada kesan gelap tapi sekaligus puitis yang bikin saya penasaran. Sambil menyeruput kopi, saya iseng baca sinopsisnya di belakang cover, dan boom, langsung masuk keranjang belanjaan.

Rasanya aneh ya, beli buku tentang kematian di saat saya lagi pengen hiburan ringan. Tapi ternyata, buku ini justru memberikan perspektif yang benar-benar fresh tentang bagaimana kita menjalani hari-hari. Kalau kamu juga lagi nyari bacaan yang bikin mikir tapi tetap enak dibaca, mungkin kamu perlu cek ulasan lengkap mengenai topik yang saya kirimkan ini sampai tuntas.

Tentang Apa Sih Buku Ini?

Secara garis besar, Funerals Are for the Living bukan buku panduan kematian yang suram atau penuh teori filosofis yang berat. Sami Ellis membawa kita pada perjalanan emosional tentang bagaimana kematian orang-orang terdekat seringkali menjadi cermin bagi kita yang masih bernapas. Buku ini mempertanyakan: kenapa kita baru menghargai seseorang setelah mereka tiada? Kenapa kita sering menunda kebahagiaan hanya karena merasa punya waktu yang tak terbatas?

Penulis dengan piawai meramu pengalaman pribadinya dengan observasi sosial yang tajam. Dia mengajak pembaca untuk melihat pemakaman bukan sebagai titik akhir, melainkan sebagai peringatan keras untuk mulai benar-benar hidup. Buat kamu yang ingin eksplorasi lebih dalam tentang koleksi literasi serupa, kamu bisa mampir ke Bukureview untuk mendapatkan referensi buku-buku pengembangan diri yang tidak membosankan.

Review Jujur: Perspektif dari Pembaca

Kalau kita intip di Goodreads, respons pembaca untuk karya Sami Ellis ini terbilang sangat positif. Banyak yang merasa “tertampar” dengan gaya bahasanya yang lugas. Salah satu poin yang paling banyak disukai adalah kejujuran Ellis. Dia tidak mencoba menggurui, tapi lebih ke arah curhat yang relate dengan kehidupan banyak orang di era modern ini.

Berikut adalah beberapa poin menarik yang saya temukan setelah membaca tuntas:

  • Narasi yang tidak menggurui: Banyak penulis yang terjebak dalam gaya bahasa sok bijak, tapi Ellis memilih untuk menjadi “manusia biasa” yang juga punya ketakutan akan kematian. Ini membuat pesan yang disampaikan terasa lebih hangat.
  • Ritme cerita yang pas: Tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat. Setiap bab memberikan porsi refleksi yang cukup tanpa membuat pembaca merasa lelah secara emosional.
  • Visualisasi yang kuat: Deskripsi adegan pemakaman yang dia tulis sangat detail, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menegaskan betapa berharganya setiap detik yang kita punya saat ini.

Kekurangan yang Bisa Dimaklumi

Tentu saja, tidak ada buku yang sempurna. Ada beberapa bagian di tengah buku yang menurut saya sedikit repetitif. Mungkin maksud penulis adalah untuk menegaskan poin utama, tapi bagi saya, bagian itu bisa sedikit dipangkas agar tensi ceritanya tetap terjaga. Namun, hal ini tidak mengurangi bobot nilai keseluruhan buku secara signifikan. Ini hanyalah masalah selera yang subyektif.

Mengapa Kamu Harus Membacanya Sekarang?

Kita hidup di dunia yang serba cepat. Kita sering sibuk mengejar karier, validasi sosial, atau hal-hal materialistis laiya, sampai kita lupa bahwa “waktu” adalah satu-satunya aset yang tidak bisa kita beli kembali. Buku ini berfungsi sebagai pengingat untuk menekan tombol pause. Ellis berhasil menyentil ego kita dengan cara yang elegan.

Banyak pembaca di Goodreads menyatakan bahwa setelah membaca buku ini, mereka jadi lebih berani untuk meminta maaf kepada orang tersayang, atau sekadar meluangkan waktu untuk mengobrol santai tanpa gadget di tangan. Jika literatur yang bisa mengubah mindset kamu adalah incaranmu, maka buku ini wajib ada di daftar bacaan wajib tahun ini.

Kesimpulan

Funerals Are for the Living adalah sebuah karya yang jujur, menyentuh, dan sangat relevan bagi siapapun yang merasa terjebak dalam rutinitas tanpa makna. Sami Ellis tidak menawarkan jawaban instan untuk kebahagiaan, melainkan dia menawarkan cermin. Cermin untuk melihat apa yang selama ini kita abaikan.

Meskipun ada beberapa bab yang terasa agak panjang, secara keseluruhan buku ini adalah bacaan lima bintang bagi saya. Ini bukan sekadar buku tentang kematian, tapi buku tentang keberanian untuk mencintai kehidupan selagi kita masih diberi kesempatan. Jadi, jangan tunggu sampai nanti untuk menikmati hidup. Mulailah dari sekarang, dan mungkin, mulailah dengan membaca buku ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *