Jujur saja, awal mula saya menemukan buku It Could Have Been Her karya Lisa Jewell itu sebenarnya nggak sengaja banget. Waktu itu saya lagi mampir ke toko buku daring langganan, niat hati cuma mau beli kebutuhan bacaan ringan buat teman di kereta, eh malah mata tertuju pada sampul buku yang punya kesan misterius ini. Awalnya ragu, soalnya tumpukan buku yang belum dibaca di meja kerja sudah menggunung, tapi setelah baca deskripsi singkat di belakang sampul, jari saya nggak tahan untuk langsung klik tombol “checkout”.
Setelah buku sampai di rumah, saya langsung duduk manis di sudut ruangan, menyiapkan kopi, dan mulai membalik halaman pertama. Lisa Jewell memang punya magis tersendiri dalam merangkai kata. Begitu mulai masuk ke bab-bab awal, saya langsung ngerasa tersedot ke dalam ceritanya. Kalau kalian lagi cari rekomendasi bacaan seru, mungkin topik yang saya kirimkan ini bisa jadi jawaban atas kegabutan kalian akhir pekan ini.
Sinopsis Singkat: Ketika Masa Lalu Menghantui
Cerita ini berpusat pada sebuah keluarga yang terlihat sempurna dari luar namun menyimpan retakan dalam di dalamnya. Plotnya berkisar pada sosok wanita yang hidupnya tiba-tiba berubah setelah sebuah rahasia besar dari masa lalu terungkap kembali. Seperti gaya khas Lisa Jewell laiya, buku ini bukan sekadar thriller biasa. Ada lapisan-lapisan emosi, dendam, dan rahasia keluarga yang dikemas dengan tempo yang bikin kita nggak bisa berhenti baca.
Tokoh utamanya terasa sangat nyata, dengan segala cacat dan keraguan mereka. Kita diajak masuk ke dalam kepala mereka, merasakan ketakutan dan kebingungan mereka saat dunia yang mereka bangun dengan susah payah mulai runtuh berantakan.
Mengapa Buku Ini Layak Masuk Daftar Bacaanmu?
Salah satu alasan kenapa saya sangat menikmati buku ini adalah bagaimana Lisa Jewell membangun atmosfer ketegangan. Dia tidak terburu-buru. Dia membiarkan pembaca mengenal karakternya terlebih dahulu sebelum menimpakan konflik besar. Di situs seperti Goodreads, banyak pembaca yang memberikan rating tinggi karena merasa bahwa perkembangan karakter dalam novel ini sangat luar biasa. Salah satu pengguna bahkan menyebutkan bahwa cara Jewell menyelipkan petunjuk-petunjuk kecil di sepanjang cerita sangat brilian.
Saya setuju banget dengan pendapat tersebut. Membaca buku ini rasanya seperti sedang menyusun puzzle. Setiap potongan informasi yang kita dapatkan terasa penting, dan ketika akhirnya potongan terakhir terpasang, rasanya puas banget! Untuk kalian yang ingin mendapatkan insight lebih dalam atau mencari ulasan buku menarik laiya, jangan lupa selalu cek Bukureview untuk referensi bacaan yang terkurasi dengan baik.
Kelebihan yang Bikin Susah Beranjak
Ada beberapa poin plus yang saya tangkap selama membaca It Could Have Been Her:
- Alur yang Mengalir: Meski ceritanya kompleks, cara Lisa Jewell menulis membuatnya sangat mudah diikuti. Nggak ada istilah tersesat karena plot yang terlalu rumit.
- Karakter yang Relatable: Kita seringkali bisa melihat diri kita sendiri atau orang di sekitar kita dalam sosok para tokohnya. Ini yang bikin emosinya terasa nendang.
- Plot Twist yang Cerdas: Ya, plot twist-nya memang bukan yang paling “gila” di dunia literatur, tapi eksekusinya sangat rapi dan logis.
Sisi Kritis: Sedikit Catatan untuk Sang Penulis
Walaupun saya sangat menikmati buku ini, bukan berarti nggak ada yang bisa dikritik. Ada beberapa bagian di tengah cerita yang menurut saya sedikit melambat temponya. Bagi pembaca yang terbiasa dengan thriller dengan pace cepat dan penuh aksi, mungkin bagian tengah ini terasa agak “bertele-tele”. Namun, jika kamu tipe pembaca yang menikmati pembangunan karakter, bagian ini sebenarnya cukup esensial untuk memahami motivasi para tokoh di akhir cerita.
Pendapat di Goodreads juga senada; beberapa pembaca merasa bahwa endingnya sedikit terlalu terburu-buru dibandingkan dengan awal dan tengah cerita yang sangat mendetail. Tapi, secara keseluruhan, itu hanya catatan kecil yang nggak mengurangi keseruan membaca buku ini secara signifikan.
Kesimpulan: Wajib Baca atau Skip?
Kalau ditanya apakah buku ini wajib dibaca, jawaban saya jelas: iya! Lisa Jewell membuktikan lagi kenapa dia adalah salah satu ratu thriller psikologis saat ini. It Could Have Been Her bukan cuma soal tebak-tebakan siapa pelakunya, tapi lebih ke arah bagaimana trauma masa lalu bisa membentuk seseorang di masa depan.
Bagi kalian yang suka dengan cerita keluarga yang punya sisi kelam, buku ini adalah teman yang pas. Jangan berekspektasi aksi ala film Hollywood, tapi berekspektasilah pada ketegangan emosional yang bakal nempel di kepala bahkan setelah kamu menutup halaman terakhir buku ini.
Jadi, apakah kalian siap buat menyelami rahasia keluarga ini? Jangan lupa siapkan camilan dan waktu luang, karena sekali buka, susah banget buat berhenti sebelum tahu siapa sebenarnya yang “bisa saja menjadi dia”.
